9 KESALAHAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Konsep pendidikan sebagai gerakan semesta belum bisa 100% terjadi. Karena kita masih terikat sama dosa pendidikan masa lalu. Kita perlu hentikan regerasi kesalahan sistem pendidikan. Lakukan perbaikan atas  kesalahan masa lalu.

Ada 9 kesalahan sistem pendidikan di Indonesia yang wajib kita alami, dulu.Dibilangwajib karena memang gaada perubahan signifikan dari dulu sampai sekarang.

Lalu apa apa aja kesalahan itu?
#Share

1.SEKOLAH ADALAH KEWAJIBAN BUKAN KESADARAN


Itulah prinsip salah yang masih kita terapkan sampai sekarang. Nilai-nilai pemaksaan yang dibiaskan menjadi sebuah kewajiban. Wajib belajar 9 tahun. Disadari atau gamaksudnya adanya selama 9 tahun ga kita dipaksa untuk belajar. Dengan embel-embel uang sekolah gratis dan buku gratis.

Berdasarkan data dari BKKBN diatas anak laki-laki dengan umur 7-15 tahun ada 39.913 orang yang gasekolah. Jumlahnya lebih banyak daripada anak laki-laki yang bersekolah yaitu 39.456 orang. Anak perempuannya hitung sendiri ya.

Dari data dibawah menunjukkan kalau gasekolah itu lebih wajib daripada gasekolah.

Sebagian dari mereka akhirnya memilih untuk mencari uang atas keinginan sendiri dan desakan ekonomi. Tapi kita ga akan fokus pada mereka. Kita tetap pasang mata sama anak sekolahan.

Meski sekolah dibilang wajib, anak-anak sekolah punya banyak alasan untuk bolos sekolah. Coba bedakan teriakan anak SD saat masuk sekolah, jam istirahat, dan pulang sekolah?

Lebih menyenangkan mana?


2.BELAJAR KARENA NILAI BUKAN KARENA MENYENANGKAN


Fakta diatas semakin merosot lagi setelah kita masuk sekolah. Begitu udahmasuk sekolah kesalahan selanjutnya udahmenanti diruangan kelas.

Kita akan berjuang mati-matian belajar “hanya” kalau gurunya “pembunuh”dan “raja pelit” kasih nilai. Tapikalau “ga”,kita akan santai aja bro.Hidup kayak dipantai, santai.

Pelajaran olahraga yang cuma sekali 1 minggu dan jam istirahat yang cuma 15 menit. Justru adalah waktu yang paling berkesan selama sekolah. Karena saat jam itulah kita bisa bebas bermain. Kita bisa menikmati setiap detik dan menitnya.

Sayangnya rasa menyenangkan itu gabisa didapatkan saat belajar. Tekanan agar dapat nilai bagus dan gatinggal kelas yang mendorong kita untuk belajar. Yah, selain rasa malu biar gajadi anak yang “dianggap” terbodoh dikelas.


3.KESALAHAN BUKAN UNTUK DISALAHKAN TAPI DIPERBAIKI



Pernah salah dan dihukum didepan banyak orang?

Pernah dibuat malu sama guru didepan banyak orang?

Apakah itu membuat kita belajar atau malah benci sama gurunya?

Simpan aja jawaban masing-masing.

Kalau aja ada satu jawaban “ya” atas pertanyaan diatas. Maka kita adalah temen. Kita korban regenerasi pendidikan yang salah.

Konsep salah disalahkan dan dipermalukan itu bersyukurnya mulai berkurang diperkotaan. Karena dengan mudahnya pada siswa akan diliput sama media.

Kalau didesa mah, masih banyak yang menjadi korban “salah mendidik”.


4.BELAJAR HANYA KALAU ADA TUGAS


Kenapa orang lebih suka main daripada belajar?

Yap, balik lagi ke poin yang pertama dan kedua diatas. Karena belajar itu kewajiban yang gamenyenangkan.

Daritadi kita memojokkan sistem pendidikan terus ya?

Baiklah, anggaplah sistem pendidikannya udah benar. Kita mau ditekan belajar sampai lulus SMA. Liat saat kuliah berapa banyak akhirnya yang menjadi burung liar dan kuda liar. Harus jatuh dan mengalami kuliah yang berantakan.

Kewajiban belajar ga membuat mereka sadar. Justru kesadaran kalau pendidian itu penting yang membuat kita sadar. Sampai akhirnya mengejar ketertinggalan kuliah.

Lalu paksaan belajar ga berhenti sampai disitu. Berapa banyak kita yang akhirnya bekerja gasesuai sama “gelar sarjana”?

Kita akhirnya memilih bekerja sesuai dengan hal yang kita senangi. Bukan jurusan yang dipaksakan. Hal ini berkaitan erat dengan kesalahan selanjutnya.


5.ANAK IPA ITU PINTAR DAN ANAK IPS ITU BODOH


Siapa yang sempat merasakan itu?

Gadipungkiri memang, kemampuan berpikir anak IPA lebih daripada anak IPS. Lalu kenapa anak IPA bisa pintar dan anak IPS bisa bodoh?

Bukannya tujuan sekolah membuat anak bodoh menjadi pintar?

Kita bisa pecah karena perbedaan soal agama dan kepercayaan. Disadari gakalau sebenarnya guru dan segenap jajaran sekolah membentuk perbedaan antara IPA dan IPS?

Bukankah itu udah bertentangan dengan tiga prinsip pendidikan ala Mbah Ki Hadjar Dewantara?


6.KESALAHAN DIBAYAR HUKUM


Itulah hal yang lumrah dan legal terjadi disekolahan. Lalu kalau anak lebih banyak salah maka akan dihukum terus?

Kapan dia akan mendapatkan perhatian sama dengan yang lainnya?

Kenapa sistem hukuman gadihilangkan aja dan diganti dengan “prestasi dapat hadiah”.


7.JAGO MATEMATIKA PINTAR, JAGO MAIN BOLA BODOH


Konsep lain dari pintar dan bodoh disekolah adalah perbandingan jago matematika dan jago main bola. Guru dan orang tua sering bilang “Mau makan apa kamu main bola?”.

Lebih kaya mana pemain bola sekarang dan ilmuwannya?

Kenapa soal kaya, ya karena tadi pertanyaannya mau makan apa.

Guru hanya fokus pada kemampuan anak yang jago matematika dan didukung oleh banyak orang untuk ikut olimpiade. Lalu anak yang jago main bola hanya didukung sama temen-temencowoknya.


8.GURU BOLEH SALAH, SISWA TIDAK BOLEH


Pernah telat dan kena hukuman?

Disuruh hormat bendera atau disuruh berdiri satu kaki didepan kelas sambil pegang kuping. Lalu ketika kita udahberada dalam kelas dan gurunya terlambat masuk. Kita biasa ajaseolah gaterjadi apa-apa.

Guru hanya bilang, “Maaf Ibu telat, kita lanjutkan pelajaran ya”. Enak banget ya jadi guru?

Emang mereka gapernah jadi murid ya?

Gapernah merasakan korban amarah guru?

Atau mungkin mereka korban sistem pendidikan salah. Mereka adalah “sianak yang pintar” yang dulu dikasih perhatian.


9.ANAK PINTAR DISAYANG GURU, DAN ANAK BODOH TIDAK


Fakta terakhir ini gabisa dielak. Seolah udahmenjadi aturan alami disekolahan.

Anak pintar dan rajin akan mendapatkan perhatian khusus dengan pujian dan nilai bagus. Anak bodoh dan malas hanya akan mendapat teguran dan rasa malu. Sayangnya gasemua guru akan memberikan perhatian khusus untuk mereka?

Bukankah tugas guru adalah mendidik?

“Kalau menjadikan anak pintar menjadi semakin pintar. Apa hebatnya guru?”

Akhirnya Konsep Pendidikan sebagai Gerakan Semesta di Bulan Pendidikan Kebudayaan hanya akan menjadi selebrasi tanpa solusi. Kalau kita ingin gerakan ini mengembalikan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Perubahan mulai dari atas bukan dari bawah. Perubahan gadimulai dari orang yang dididik tapidari pendidik.

“Perubahan dimulai dari pendidik bukan terdidik”

Nilai-nilai dan karakter dari Pancasila sebagai tujuan utama dari pendidikan nasional gaakan mempan sama siswa. Gaakan masuk. Nilai-nilai sebaik apapun akan tetap sia-sia.

Siswa sebagai terdidik adalah mesinnya. Sedangkan guru sebagai pendidik adalah supirnya. Arah kemana pendidikan Indonesia tergantung arah kemudi.

Semoga berguna.

"Perubahan dimulai dari pendidik

 Bukan malah yang sebaliknya

 Perbaikan belum sampai titik

 Masih banyak waktu lakukannya"



Sumber   : http://www.kompasiana.com/kekitaan/9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami_5749042f129773b1043fc7ae


Komentar